Radio Dakwah

Radio yang berperan dalam dakwah.

Asal-Usul Jathilan

Sejarah Jathilan di Indonesia

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 31 Oktober 2013

Lirik Lagu "Kereta Malam"

Pernah sekali aku pergi
Dari Jakarta ke Surabaya
Untuk menengok nenek disana
Mengendarai kereta malam

Jug gejak gejuk gejak gejuk
Kereta berangkat
Jug gejak gejuk gejak gejuk
Hatiku gembira

Jug gejak gejuk gejak gejuk
Kereta berangkat
Jug gejak gejuk gejak gejuk
Hatiku gembira

Kebetulan malam itu
Cuacanya terang bulan
Ku melihat kekiri kanan
Hai indahnya pemandangan

Sayang lama kantukku datang
Hingga tertidur nyenyak sekali

Wahai ketika aku terbangun
Rupanya hari pun sudah pagi
Hingga tiada aku sadari
Aku tlah tiba di surabaya

Jug gejak gejuk gejak gejuk
Kereta berangkat
Jug gejak gejuk gejak gejuk
Hatiku gembira

Jug gejak gejuk gejak gejuk
Kereta berangkat
Jug gejak gejuk gejak gejuk
Hatiku gembira

Kebetulan malam itu
Cuacanya terang bulan
Ku melihat kekiri kanan
Hai indahnya pemandangan

Sayang lama kantukku datang
Hingga tertidur nyenyak sekali

Wahai ketika aku terbangun
Rupanya hari pun sudah pagi
Hingga tiada aku sadari
Aku tlah tiba di surabaya

Jug gejak gejuk gejak gejuk
Kereta berangkat
Jug gejak gejuk gejak gejuk
Hatiku gembira

Jug gejak gejuk gejak gejuk
Kereta berangkat
Jug gejak gejuk gejak gejuk
Hatiku gembira

Hadis Mengenai Ruh Orang Mati Berkeliling di Seputar Rumah dan Makamnya


Pertanyaan:
Ditanya oleh rekan sejawat sesama pengurus takmir sebuah mesjid tentang hadis yang menyatakan bahwa ruh orang Islam yang meninggal akan berputar-putar di sekitar rumahnya selama satu bulan sejak meninggalnya dan setelah itu berputar-putar di sekitar makamnya selama setahun. Hadis itu oleh sebagian orang dijadikan dasar bagi diadakannya kegiatan tahlil. Hadis tersebut dinyatakan bersumber dari Abu Hurairah r.a. dan terdapat dalam kitab Durratun-Nashihin dengan terjemahan bahasa Jawa pada halaman 2195-2196. Matan hadis dimaksud sebagaimana dikutip dalam kitab Durratun-Nasihin dengan terjemahan bahasa Jawa itu adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا مَاتَ اْلمُؤْمِنُ حَامَ رُوْحُهُ حَوْلَ دَارِهِ شَهْراً فَيَنْظُرُ إِلَى مَنْ خَلَفَ مِنْ عِياَلِهِ كَيْفَ يَقْسِمُ مَالَهُ وَكَيْفَ يُؤَدِّيْ دُيُوْنَهُ فَإِذاَ أَتَمَّ شَهْراً رُدَّ إِلَى حَفْرَتِهِ فَيَحُوْمُ حَوْلَ قَبْرِهِ وَيَنْظُرُ مَنْ يَأْتِيْهِ وَيَدْعُوْ لَهُ وَيَحْزِنُ عَلَيْهِ فَإِذَا أَتَمَّ سَنَةً رُفِعَ رُوْحُهُ إِلَى حَيْثُ يَجْتَمِعُ فِيْهِ اْلأَرْوَاحُ إِلَى يَوْمِ يُنْفَخُ فِيْ الصُّوْرِ .

Pertanyaannya: Apakah hadis ini sahih dan siapa rawi yang meriwayatkannya? Mohon penjelasan.
Kalasan, 25-12-2009. Penanya: Sugianto, Guru SMPN 3 Turi, Kalasan, Sleman, Yogyakarta.

Jawaban:
Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid mengucapkan terima kasih kepada Bpk. Sugianto atas pertanyaannya. Agar para pembaca yang tidak memahami bahasa Arab dapat mengetahui isi matan dari teks di atas, maka terlebih dahulu kami perlu menerjemahkannya ke dalam bahasaIndonesia. Terjemahannya adalah sebagai berikut:
(Diriwayatkan) dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah saw bahwa apabila seorang mukmin meninggal dunia, maka arwahnya berkeliling-keliling di seputar rumahnya selama satu bulan. Ia memperhatikan keluarga yang ditinggalkannya bagaimana mereka membagi hartanya dan membayarkan hutangnya. Apabila telah sampai satu bulan, maka arwahnya itu dikembalikan ke makamnya dan ia berkeliling-keling di seputar kuburannya selama satu tahun, sambil memperhatikan orang yang mendatanginya dan mendoakannya serta orang yang bersedih atasnya. Apabila telah sampai satu tahun, maka arwahnya dinaikkan ke tempat di mana para arwah berkumpul menanti hari ditiupnya sangkakala.

            Sebelum lebih lanjut menjelaskan asal-usul teks di atas yang diklaim sebagai hadis Nabi saw, perlu dijelaskan terlebih dahulu pengertian dan unsur-unsur hadis. Secara singkat hadis pada pokoknya adalah suatu matan yang dinisbatkan kepada Nabi saw melalui suatu rangkaian sanad yang menghubungkan mukharrij (penghimpun matan) kepada sumber matan, yaitu Nabi saw. Pengertian ini menjelaskan kepada kita bahwa hadis terdiri dari dua unsur pokok (rukun), yaitu sanad dan matan. Sanad adalah jalur yang terdiri atas satu rangkaian rawi yang sambung-menyambung hingga sampai kepada Nabi saw dan yang menghubungkan mukharrij (penghimpun hadis) kepada Nabi saw yang merupakan sumber matan. Matan adalah materi yang bersumber kepada Nabi saw yang diriwayatkan melalui jalur sanad yang menghubungkan penghimpun hadis kepada Nabi saw. Oleh karena itu setiap matan hadis haruslah ada sanadnya. Apabila ada hadis tanpa sanad, maka itu sama sekali bukan hadis yang sah. Sanad dalam pandangan orang-orang Muslim merupakan sarana untuk membuktikan bahwa suatu materi adalah hadis yang berasal dari Nabi saw. Berikut ini adalah contoh sanad dan matan:

مَالِك : عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ [رواه مالك]

Artinya: Malik (berkata): Dari ‘Amar Ibn Yahya al-Mazini, dari ayahnya (Yahya al-Mazini) diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: Tidak ada perbuatan merugikan diri sendiri dan perbuatan merugikan orang lain [HR Malik, al-Muwatta’Beirut: Dar al-Fikr, 2005, h.454, hadis no. 1461]. 

            Hadis ini dikutip dari kitab al-Muwatta’ karya Imam Malik (w. 179 H / 795 M). Dalam kitab ini Malik menyatakan bahwa ia menerima hadis la darara wa la dirar  dari gurunya ‘Amr Ibn Yahya al-Mazini, dan ‘Amr Ibn Yahya al-Mazini sendiri menerima hadis itu dari gurunya, yaitu ayahnya sendiri, yaitu Yahya al-Mazini yang menerangkan bahwa Rasulullah saw bersabda: tidak ada perbuatan merugikan diri sendiri dan perbuatan merugikan orang lain. Jadi rangkaian orang (rawi) yang menghubungkan Malik sebagai penghimpun hadis kepada Nabi saw, dalam hal ini ialah ‘Amr dan ayahnya Yahya, adalah sanad dari hadis riwayat Malik tidak ada perbuatan merugikan diri sendiri dan perbuatan merugikan orang lain. Sedangkan isi hadis berupa sabda Nabi saw tidak ada perbuatan merugikan diri sendiri dan perbuatan merugikan orang lain adalah matan. 

            Perlu juga diketahui bahwa hadis harus ditemukan dalam sumber orisinal hadis. Sumber orisinal hadis adalah semua kitab yang penyusunnya memiliki sanad yang menghubungkannya kepada Nabi saw. Jadi kitab al-Muwatta’ karya Malik dan kitab fikih al-Umm karya Imam asy-Syafi’i (w. 204 H / 820 M) adalah sumber orisinal hadis, karena masing-masing penyusun kitab itu mempunyai sanad tersendiri yang menghubungkannya kepada Nabi saw. Sedangkan kitab al-Muntaqa karya Ibn Taimiyyah (w. 728 H / 1328 M), dan kitab Nailul-Autar karya asy-Syaukani (w. 1255 H / 1839 M), misalnya, bukanlah sumber orisinal hadis karena penyusunnya tidak memiliki sanad yang menghubungkan mereka kepada Nabi saw. Mereka mengutip hadis-hadis dalam kitab mereka itu dari kitab lain. Jadi kitab-kitab tersebut, meskipun adalah kitab-kitab hadis, namun bukan sumber orisinal hadis. 

            Sekarang marilah kita meneliti di mana sumber hadis tentang arwah yang berkeliling di seputar rumahnya yang ditanyakan di atas. Untuk melakukan penelitian kita dapat menggunakan tiga metode. Pertama menggunakan Program al-Maktabah asy-Syamilah (edisi 2), keduamenggunakan Program al-Jami’ al-Akbar (edisi 2), dan ketiga menggunakan Program al-Jami’ al-Kabir (edisi 4, 2007-2008). Penelusuran dengan menggunakan al-Maktabah asy-Syamilah tidak menemukan adanya hadis yang ditanyakan di atas. Ini berarti bahwa teks di atas tidak tercatat dalam satu pun dari 5505 kitab yang dirujuk dalam al-Maktabah asy-Syamilah. Dan karena itu juga dapat dinyatakan bahwa hadis yang sedang kita selidiki ini tidak tercantum dalam satu pun dari sumber-sumber orisinal hadis yang ada.  

            Sekarang mari kita lakukan penelusuran dengan menggunakan Program al-Jami’ al-Akbar. Hasil penelusuran dengan menggunakan program ini juga nihil, artinya hadis yang ditanyakan di atas tidak tercantum dalam kitab-kitab hadis yang ada. Terakhir mari kita gunakan program al-Jami’ al-Kabir (edisi 4, 2007/2008). Program ini menunjukkan juga tidak ada hadis seperti yang ditanyakan di atas yang tercantum dalam sumber orisinal hadis mana pun. Namun program ini menemukan ada matan lain yang mirip dengan hadis yang ditanyakan di muka. Matan lain dimaksud adalah sebagai berikut:
  
اَلْمَيِّتُ إِذاَ مَاتَ دِيْرَ بِهِ دَارُهُ شَهْرًا يَعْنِيْ بِرُوْحِهِ وَحَوْلَ قَبْرِهِ سَنَةً ثُمَّ تُرْفَعُ إِلَى السَّبَبِ الَّذِيْ تَلْتَقِيْ فِيْهِ أَرْواَحُ اْلأَحْياَءِ وَاْلأَمْواَتِ .
Artinya: Seseorang apabila meninggal, maka ruhnya dibawa berputar-putar di sekeliling rumahnya selama satu bulan, dan di sekeliling makamnya selama satu tahun, kemudian ruh itu dinaikkan ke suatu tempat di mana ruh orang hidup bertemu dengan arwah orang mati.

            Matan ini direkam oleh ad-Dailami (w. 509 H / 1115 M) dalam kitabnya al-Firdaus fi Ma’tsur al-Khithab [(Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1417/1996), IV: 240, nomor 6722], dari Abu ad-Darda’ tanpa menyebutkan sanadnya. Selain itu matan ini juga dicatat oleh as-Sayuthi (w. 911 H / 1505 M) dalam dua kitabnya, yaitu Busyra al-Ka’ib bi Liqa’ al-Habib (h. 11) dan Syarh ash-Shudur bi Syarh Hal al-Mauta wa al-Qubur (h. 262). Namun as-Sayuthi dalam kedua kitab ini hanya mengutip dari ad-Dailami, dan ia menyatakan bahwa ad-Dailami tidak menyebutkan sanadnya. Dengan demikian matan ini pun juga tidak terdapat dalam sumber-sumber orisinal hadis. 

            Dari apa yang dikemukakan di atas dapat dilihat bahwa matan yang ditanyakan di atas dan matan lain yang mirip yang disebutkan oleh ad-Dailami tidak ada diriwayatkan dalam satu pun dari sumber-sumber orisinal hadis dan matan-matan tersebut tidak memiliki sanad. Atas dasar itu, maka disimpulkan bahwa matan tersebut sama sekali bukan hadis Nabi saw.

Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Pusat Muhammadiyah
E-mail: tarjih_ppmuh@yahoo.com dan ppmuh_tarjih@yahoo.com

HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN KETIKA HAID


Penanya:
Wakidjo Az., NBM. 494.220
Agen SM No. 025, Metro Lampung Tengah


Pertanyaan:
Bolehkah orang yang berhadas besar (misalnya wanita yang sedang haid) membaca al-Qur’an, sebab dalam surat al-Waqi‘ah ayat 79 disebutkan laa yamassuhu illal-muthahharuun?

Jawaban:
Hukum membaca al-Qur’an bagi orang yang berhadas besar (misalnya wanita yang sedang haid). Bagaimana hubungannya dengan firman Allah: laa yamassuhu illal-muthahharuun?
Pertanyaan seperti di atas pernah diajukan dan telah dijawab, serta dapat dibaca pada buku Tanya Jawab Agama Jilid II Cet. VI hal. 34-35. Pada kesimpulan penjelasan yang dimuat dalam buku Tanya Jawab Agama tersebut dinyatakan bahwa larangan membaca al-Qur’an bagi orang yang berhadas besar hanyalah berdasarkan etis dan kepatutan serta sebagai tanda memuliakan dan menghormati Kalamullah, karena tidak ditemukan hadits yang dapat dijadikanhujjah yang dapat dijadikan sebagai dasar hukumnya. Bahkan ada hadits shahih yang mengisyaratkan bahwa orang yang berhadas besar boleh membaca al-Qur’an.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ. [رواه مسلم وأبو داود والترمذى].
Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah ra., ia berkata: Adalah Nabi saw menyebut nama Allah dalam segala hal.” [HR. Muslim, Abu Dawud, dan at-Turmudzi].

Dari hadits di atas dapat difahami bahwa orang yang berhadas besar boleh berzikir menyebut nama Allah. Membaca al-Qur’an dapat disamakan dengan menyebut nama Allah.
Mengenai ayat laa yamassuhu illal-muthahharuun (al-Waqi‘ah ayat 79) menurut riwayat diturunkan di Makkah, sebelum Nabi saw hijrah ke Madinah. Sedang mushaf al-Qur’an baru ada pada zaman Khalifah Utsman bin Affan, yang berarti adanya mushaf al-Qur’an setelah lebih kurang 30 tahun setelah ayat tersebut diturunkan. Pada masa Khalifah Utsman baru ada lima mushaf dan itupun belum beredar ke tengah masyarakat. Mushaf al-Qur’an baru dicetak dan mulai beredar ke tengah masyarakat lebih kurang 900 tahun kemudian. Karena itu, ayat di atas tidak ada kaitannya dengan mushaf al-Qur’an.
Dari pendapat para mufassir dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan al-muthahharuun, ialah orang yang suci yang benar-benar beriman kepada Allah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Orang-orang inilah yang dapat menyentuh isi dan kandungan al-Qur’an. Sedangkan orang yang tidak suci tidak akan dapat menyentuh kandungan dan isi al-Qur’an. Orang-orang suci yang dimaksud mungkin malaikat, dan mungkin manusia, dan mungkin pula kedua-duanya.
Sebagaimana telah diterangkan di atas, bahwa Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam berpendapat, yang paling baik bagi orang yang hendak membaca al-Qur’an adalah ia dalam keadaan suci dari hadas dan najis, serta berwudlu terlebih dahulu. Karena yang akan kita baca bukan sembarang kitab, melainkan wahyu Allah yang menjadi petunjuk hidup bagi manusia. Pendapat ini sesuai pula dengan pendapat Ibnul Qayyim. *km)


 Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kronologis Kebakakaran di Jalan Malioboro - Kodya Yogyakarta (26 Oktober 2013)




Sabtu Malam (Malam Minggu) 26 Oktober 2013
- Pukul 21.47 WIB Telah terjadi kebakaran di jalan Malioboro -Yogyakarta di gedung yang berada persis di belakang toko Sinar Arloji  jalan Ahmad Yani dan jalan Gandekan daerah Pajegsan. Saat kebakaran terjadi jalan Malioboro ditutup untuk memaksimalkan penanganan kebakaran tersebut.  Cukup banyak warga masyarakat yang menyaksikan dari dekat terkait kebakaran tersebut. 

Empat unit mobil pemadam kebakatan dikerahkan untuk menjinakkan sang api. Belum dapat diketahui sumber api yang mengakibatkan kebakaran tersebut. Sementara petugas saat ini masih berupaya mengendalikan api.
- Pukul 22. 45  WIB Pemadam kebakaran masih berusaha menjinakkan api yang membakar toko yang berada di Jalan Malioboro. 
- Pukul 23.30 WIB Pantauan dari radio komunikasi Pare Anom menyebutkan bahwa api sudah mulai terkondisi. Petugas pemadam yang berada di lokasi mulai melakukan proses pendinginan agar api tidak merembet ke toko lain. Satu unit kendaraan pemadam kebakaran tambahan baru saja datang dari arah Selatan membantu sejumlah tim pemadam kebakaran yang ada di lokasi kejadian. Alhamdulillah menurut beberapa laporan tidak ada korban jiwa dalam kebakaran yang terjadi.

Beberapa foto saat terjadinya kebakaran di jalan Malioboro - Yogyakarta






Sumber: www.jogja.tribunnews.com

Doa Ketika Turun Hujan





Alhamdulillah...... Alhammdulillahirrobil 'alamiin... Akhirnya di Kabupaten Gunungkidul sudah mulai turun hujan beberapa hari terakhir ini, nah sebagai Ummat Muslim mari yo berdoa ketika kita melihat turunnya hujan. Berikut doanya: 

"ALLOOHUMMA SHOYYIBAN NAAFI'A"
ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat...

Diriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha,
ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ ﺇﺫَﺍ ﺭَﺃَﻯ ﺍﻟْﻤَﻄَﺮَ ﻗَﺎﻝَ : ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻴِّﺒًﺎ
ﻧَﺎﻓِﻌًﺎ
"Adalah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam apabila melihat hujan beliau berdoa: ALLAHUMMA SHAYYIBAN NAAFI'A (Ya Allah, -jadikan hujan ini- hujan yang membawa manfaat -kebaikan-." (HR.Al-Buhari)

Selasa, 29 Oktober 2013

Edisi Cerkak: Sawah



Srengenge durung katon njedul, nanging semburat abang ing sisih etan wus katon mbranang. Manuk-manuk pating bleber mangkat golek pangan ninggalke anak-anake sing isih cilik-cilik, pating cruit nguntapke lungane biyunge, kanthi pangarep-arep gek ndang mulih terus ngloloh dheweke. Mengkono uga para manungsa kang duwe pakaryan bakul menyang pasar. Padha nggendong tenggok munjung-munjung isi dagangan. 

Kabeh padha ngajab, muga-muga laris, entek dagangane, mulih kari nggawa tenggok kosong lan lembaran-lembaran rupiah. Esuk kuwi, Mbah Wongso uga katon menyang sawah nggawa pacul sing disampirke ing pundhake. Tangane kiwa katon kelip-kelip amarga ing slempitane driji ana mawane, mawa rokok lintingan dhewe alias tingwe. Klempas-klempus sak dalan-dalan katon nikmat banget. Wektu kuwi Parja lagi nyapu latar sing kebak godhong jambu."Mruput, Mbah! Tindak sabin?" "Genah nggawa pacul ngono, mosok arep njagong!" semaure Mbah Wongso sakkecekele. Mbah Wongso sanajan wis tuwa nanging isih seneng guyonan. Malah ana sing ngarani Mbah Gaul."Penjenengan niku nggih aneh, Mbah! Nek kula mboten aruh-aruh mengke diarani cah enom mboten ngerti unggah-ungguh." "Ooo...ya wis, bener Le..., la kowe gek nyapu?" "Mboten, Mbah. niki nembe dhahar!" Parjo mbales Mbah Wongso. "Dhahar gundulmu kuwi, diamput!! Kakekane...lha kok malah mbales," wong loro terus padha ngguyu.Tekan sawah Mbah Wongso nyelehake pacule. Dheweke terus lungguh nyawang tanduran pari sing wis merkatak. Sawise ngentekke udute, Mbah Wongso terus mak nyat, ngadeg terus mbabati suket sak kiwa tengene tanduran pari. Sukete diklumpukke kanggo pakan wedhus. Udakara jam sanga esuk, Suminah anake wadon katon nggawa sarapan lan wedang teh sing ginasthel, legi panas tur kenthel. Kringet wis dleweran, weteng ya wis pating kluthuk njaluk diisi."Sarapan rumiyin, Pak!" "Kene nduk, wah kebeneran banget. Wetengku wis kluruk terus je!" "Wausak derenge tindak kapurih sarapan riyin mboten purun, wong nggih sampun mateng sedanten." "Mangan kuwi paling enak ki nek wis luwe ngene kiyi!"Mbah Wongso anggone dhahar katon dhokoh nyenengke tenan. Mula ora mokal sanajan wis sepuh isih katon gagah. Amarga olah ragane macul ora tau leren lan dhahare ya akeh tenan. Bar dhahar terus ngunjuk benteran ginastel kalajengaken udud. Kesenengan sing keri kuwi jan-jane wis dilarang dening anake wadon. "Pak, mbok ses-ipun dipun kirangi, nek saget malah mboten sah udud mawon, cobi njenengan waos nggen bungkus rokok niku. Merokok dapat menyebabkan kanker," durung rampung wis dipunggel Mbah Wongso. "Rak dapat menyebabkan jarene Pardi wingi kae, dapat menyebabkan kuwi tegese ora mesthi, isa lara isa ora, iya ta? Jarene nek wong-wong ora udud, pabrik rokok isa bangkrut, karyawane padha nganggur, mbako ora payu, petani mbako klenger, pemerintah ora nampa pajek, jarene pajek saka rokok kuwi paling gedhe nduk? Lho, piye? Aku udud iki rak membantu pemerintah ta?" "Penjenengan niku nek diaturi mesthi ngeyel, mengke nek gerah paru-parune mang raoske piyambak!" Suminah katon mrengut.Ora let suwe sak rampunge Mbah Wongso dhahar, saka wetan katon wong loro lanang-wadon numpak pit montor nyedhak marang lungguhe Mbah Wongso. Wong loro mau terus nyelehke heleme terus mudhun nyalami Mbah Wongso lan Suminah. "Nyuwus pirsa, ingkang nggarap sabin niki sinten, Mbah?" wong wadon mau takon marang Mbah Wongso. "Kula!" semaure Mbah Wongso. "Penjenengan nyewa saben niki dateng sinten?" "Lho, nyewa pripun. Sampeyan ampun golek perkara, niki sabin kula. Kula tumbas pun sedasa tahun kepengker! Malah wonten surate, surtipikat niku lho!" "Pak, jenenge sertifikat!" Suminah njawil bapake. "Nggih ngoten niku!" semaure Mbah Wongso. Oleh keterangan saka Mbah Wongso, wong loro lanang-wadon mau pada ulat-ulatan semu gumun."Sabar riyin, Mbah! Ngeten nggih, sabin niki sabin kula. Kula tumbas kalih welas tahun kepungkur. Amargi kula merantau, kula ken nggarap tiyang sing gadhah riyin, jenenge Prapto. Niki kula mboten merantau malih, kala wingi kula madosi Prapto, kabaripun Prapto malah sampun tilar donya, mula kula nglacak mriki." "Mboten saged, niki riyin nggih sawahe Prapto, ning sing numbas kula! Sampeyan mesti ajeng apus-apus!" Mbah Wongso katon arep nesu. "Ngeten mawon, kula mboten ajeng apus-apus. Benjang Sabtu dicocoke mawon sertifikate, kula tak sowan ndalem penjenengan. Nek penjenengan ragu, nyuwun dipun sekseni perangkat desa, napa sinten mawon sing ngertos babagan niki."Dina sing dipilih kanggo rembukan wis teka. Mbah Wongso ngaturi para-para kang dianggep mangerteni babagan sertifikat lemah. Neng kono ana kanca-kancane Mbah Wongso sing umure sak barakan, sing mangerteni sejarah tanah sawahe Mbah Wongso. Ing kono uga rawuh Pak RT lan Pak RW, malah wis disiapke ponakane saka kepolisian sing nganggo preman, kanggo nyekel pawongan sing bakal apus-apus.Ora let suwe ana mobil mlebu pekarangane Mbah Wongso. Penumpange cacah papat. Wong lanang cacah telu lan wong wadone siji. Sing loro wis dikenal Mbah Wongso, nanging sing medhun nggawa tas koper lan sing nggawa stopmap durung diwanuhi. Tibake sing nggawa tas koper pakaryane pengacara lan sing nggawa stopmap pegawai sing ngurusi sertifikat lemah.Wong-wong mau padha rembukan gayeng nganggo bahasa Indonesia. Mbah Wongso mung domblang-domblong, ora mudheng apa sing diomongke. Ora wetara suwe sajake rembukan wis rampung. Nanging kabeh padha meneng."Pripun, Bu? Rak nggen kula ta sertipikat sing asli? Lha wong dituku nganggo dhuwit tenan, mbiyen tak rewangi adol sapi pirang-pirang arep diaku-aku, mesthi nggen kula sing asli," Mbah Wongso katon yakin banget. "Ngeten nggih, Mbah. Niki pun disekseni saking bapak-bapak ingkang mangertos babagan niki, babagan sertifikat, tibakipun ingkang asli menika e...e..., gadhahan kula, Mbah!" pawongan wadon mau menehi keterangan. "Pripun!!! Napa leres, Pak?" wong-wong sing pada rembugan nganggo bahasa Indonesia mau padha manthuk alon. Nanging kanggona Mbah Wongso kaya disamber nggelap. "Pak!!! Eling, Pak! Pak..." Suminah mbengok-mbengok amarga bapake semaput.

Unsur Intrinsik

1. Tema: Mbah Wongso udur babagan sawah2. Latar                
Latar Panggonan: Sawah
Tekan sawah Mbah Wongso nyelehake pacule. Dheweke terus lungguh nyawang tanduran pari sing wis merkatak
(b) Latar Wektu: EsukSrengenge durung katon njedul, nanging semburat abang ing sisih etan wus katon mbranang
(c) Latar Suasana: Geger"Mboten saged, niki riyin nggih sawahe Prapto, ning sing numbas kula! Sampeyan mesti ajeng apus-apus!" Mbah Wongso katon arep nesu.

3. Penokohan(1) Mbah Wongso       : Ora gelem ngalah, gaul, seneng guyon"Mboten saged, niki riyin nggih sawahe Prapto, ning sing numbas kula! Sampeyan mesti ajeng apus-apus!" Mbah Wongso katon arep nesu.” , “"Mruput, Mbah! Tindak sabin?" "Genah nggawa pacul ngono, mosok arep njagong!" semaure Mbah Wongso sakkecekele.
(2) Suminah                 : Sabar, perhatianBar dhahar terus ngunjuk benteran ginastel kalajengaken udud. Kesenengan sing keri kuwi jan-jane wis dilarang dening anake wadon. "Pak, mbok ses-ipun dipun kirangi, nek saget malah mboten sah udud mawon, cobi njenengan waos nggen bungkus rokok niku. Merokok dapat menyebabkan kanker," 
(3) Pawongan Wadon : Apik, ora grusa-grusu"Ngeten mawon, kula mboten ajeng apus-apus. Benjang Sabtu dicocoke mawon sertifikate, kula tak sowan ndalem penjenengan. Nek penjenengan ragu, nyuwun dipun sekseni perangkat desa, napa sinten mawon sing ngertos babagan niki."(4) Pardi                       : Apik, seneng guyon"Ooo...ya wis, bener Le..., la kowe gek nyapu?" "Mboten, Mbah. niki nembe dhahar!" Parjo mbales Mbah Wongso.

4. Alur  : Maju
(a) Eksposisi: Pengenalan“Kabeh padha ngajab, muga-muga laris, entek dagangane, mulih kari nggawa tenggok kosong lan lembaran-lembaran rupiah. Esuk kuwi, Mbah Wongso uga katon menyang sawah nggawa pacul sing disampirke ing pundhake. Tangane kiwa katon kelip-kelip amarga ing slempitane driji ana mawane, mawa rokok lintingan dhewe alias tingwe. Klempas-klempus sak dalan-dalan katon nikmat banget. “

(b) Complication : Mulai ana masalahOra let suwe sak rampunge Mbah Wongso dhahar, saka wetan katon wong loro lanang-wadon numpak pit montor nyedhak marang lungguhe Mbah Wongso. Wong loro mau terus nyelehke heleme terus mudhun nyalami Mbah Wongso lan Suminah. "Nyuwus pirsa, ingkang nggarap sabin niki sinten, Mbah?" wong wadon mau takon marang Mbah Wongso. "Kula!" semaure Mbah Wongso. "Penjenengan nyewa saben niki dateng sinten?" "Lho, nyewa pripun. Sampeyan ampun golek perkara, niki sabin kula. Kula tumbas pun sedasa tahun kepengker! Malah wonten surate, surtipikat niku lho!" "Pak, jenenge sertifikat!" Suminah njawil bapake. "Nggih ngoten niku!" semaure Mbah Wongso. 
Oleh keterangan saka Mbah Wongso, wong loro lanang-wadon mau pada ulat-ulatan semu gumun.

(c) Klimaks           : Puncake masalah"Sabar riyin, Mbah! Ngeten nggih, sabin niki sabin kula. Kula tumbas kalih welas tahun kepungkur. Amargi kula merantau, kula ken nggarap tiyang sing gadhah riyin, jenenge Prapto. Niki kula mboten merantau malih, kala wingi kula madosi Prapto, kabaripun Prapto malah sampun tilar donya, mula kula nglacak mriki." "Mboten saged, niki riyin nggih sawahe Prapto, ning sing numbas kula! Sampeyan mesti ajeng apus-apus!" Mbah Wongso katon arep nesu.

5.  Sudut pandang: Uwong ketelu sing perane kanggo pengamat
Tekan sawah Mbah Wongso nyelehake pacule. Dheweke terus lungguh nyawang tanduran pari sing wis merkatak. Sawise ngentekke udute, Mbah Wongso terus mak nyat, ngadeg terus mbabati suket sak kiwa tengene tanduran pari. Sukete diklumpukke kanggo pakan wedhus. Udakara jam sanga esuk, Suminah anake wadon katon nggawa sarapan lan wedang teh sing ginasthel, legi panas tur kenthel. Kringet wis dleweran, weteng ya wis pating kluthuk njaluk diisi.

6. Amanat : Ojo waton ngengkel, ning ngengkelo nganggo waton !
"Pripun, Bu? Rak nggen kula ta sertipikat sing asli? Lha wong dituku nganggo dhuwit tenan, mbiyen tak rewangi adol sapi pirang-pirang arep diaku-aku, mesthi nggen kula sing asli," Mbah Wongso katon yakin banget. "Ngeten nggih, Mbah. Niki pun disekseni saking bapak-bapak ingkang mangertos babagan niki, babagan sertifikat, tibakipun ingkang asli menika e...e..., gadhahan kula, Mbah!" pawongan wadon mau menehi keterangan. "Pripun!!! Napa leres, Pak?" wong-wong sing pada rembugan nganggo bahasa Indonesia mau padha manthuk alon.
Nanging kanggona Mbah Wongso kaya disamber nggelap. "Pak!!! Eling, Pak! Pak..." Suminah mbengok-mbengok amarga bapake semaput.

Edisi Cerkak: KANGEN*



“Man, geneya rembulan ing ndhuwur kana kae katon pucet? Orapadhang kaya biyasane.”
“Ah… rembulan ing kene sunare kalah karo sunare lampu mercury, Min. Iki kutha gedhe, Min, dudu desa sing sepi lan peteng kaya desane dhewe.”
“Man, geneya awake dhewe ninggalake desane awake dhewe. Geneya, Man?”
Parman ora nyauri pitakon kuwi. Sarmin sing nyelehake sirahe ing dhengkule uga meneng. Angin adhem sumilir alon nerak sepining swasana. Dalan ing sangarepe wengi iku sepi nyenyet. Mung siji loro pit montor sing liwat banter miyak sepining swasana. Sawuse kuwi sepi maneh.
“Man, geneya rembulan ing ndhuwur kae pucet, Man?” Sarmin takon maneh sawuse meneng sauntara wektu. Parman sing wis wiwit liyer-liyer ngantuk gragapan. Abot rasane arep njawab, dheweke mung bisa mijet-mijet sirahe mitrane mau.
Sarmin saiki siji-sijine mitrane saka desane sing ana sandhinge. Nanging mitrane sing mung keri siji iki saiki gumlethak tanpa daya. Wis meh sepuluhan dina iki lara. Embuh lara apa. Parman ora ngerti amarga durung dipriksakake menyang dokter. Dheweke uga ora ngerti carane kepriye nambani larane mitrane raket kuwi. Sing bisa dilakoni mung ngancani lan mijeti awake sinambi ngerih-erih supaya sabar lan ndonga marang Sing Maha Kuwasa supaya enggal mari.
“Coba rungokna, Man. Rungokna! Rungokna kae bocah-bocah padha nembang Jamuran ing sangisoring sunar rembulan. Ing sangisore wit sawo ing latare pak lurah. Jamuuuran… yo gegethok… jamuuuran… piye teruse, Man? Piye?”
“Elinga, Min! Elinga! Iki ing kutha gedhe, ora ana bocah-bocah sing dolanan jamuran ing sangisoring sunar rembulan. Tontonen kae lampu mercury sing padhang njingglang. Tontonen kae gedhong-gedhong dhuwur sing pating jenggelek. Ora ana bocah-bocah sing dolanan jamuran,” semaure Parman lirih amarga ngantuk.
Rong sasi kapungkur kekarone teka ing kutha gedhe iki. Saka ndesa pengin golek pagaweyan. Miturut ujaring wong akeh golek dhuwit ing kutha gedhe luwih gampang ketimbang ing desa sing mencil ing ereng-erenging gunung ing pinggir alas. Ora lali ijazah SD sing sing ditampa limang tahun kapungkur ya digawa. Sangu dhuwit ora sepiraa kekarone teka ing kutha gedhe iki. Kanggone nom-noman loro iki nyambut gawe apa bae dilakoni, sing baku halal ora nerak angger-angger. Kekarone dadi buruh bangunan. Kekarone wis melu mbangun puluhan gedhong lan melu mblasak ing saindhenging kutha ngetutake juragane proyek.
Kekarone pancen mung duwe tenaga lan otot sing rosa minangka piyandele. Nanging, kuciwane sepuluhan dina kepungkur Sarmin nandhang lara. Mundhak dina larane mundhak ndadra. Sidane saiki nglempreg tanpa daya. Jan-jane Parman pengin ngajak mulih, nanging durung oleh idi palilah saka mandhore, isih disemayani telung dina engkas.
“Man, aku pengin menyang sawah maneh. Macul, nandur pari, matun lan  pengin ngambu gandane lendhut sing anyep ing sikil. Ooo… tontonen kuwi! Tontonen kuwi manuk-manuk kuntul padha nunggangi gegere kebo. Rungokna kuwi kodhok-kodhok sing padha ngorek mbungahi!”
Parman gragapan maneh krungu tembunge kancane iku. Gumun krungu kandhane Sarmin sing lancar, kamangka lagi nandhang lara sing nemen. Parman mijet-mijet awake Sarmin. Krasa panas kaya mawa.
“Nanging… ah geneya rembulan  ing dhuwur kae pucet kaya ngana!”
Parman mandeng langit. Rembulan ing langit kana pancen katon pucet. Dheweke kelingan sore mau Sarmin njaluk metu saka brak sing dinggo turu buruh-buruh bangunan kaya dhewe. Lan saiki kekarone turu ing latar amba ing ngarep gedhong sing durung dadi, saengga langit wengi kang bawera lan kebak lintang ngenthang-ngenthang ing ndhuwure.
“Man, kapan awake dhewe bali menyang desa?”
“Sabar Min. Aku wis oleh idi palilah Pak Mandhor, nanging nunggu telung dina engkas amarga dhuwite bayaran durung ana.”
“Eh, ya. Aku wis kangen banget marang bapak simbok. Aku pengin banget menyang sawah maneh. Mesthi sedhela maneh desane dhewe panen lan ana wayang rasulan, bersih desa. Nanging ah… geneya rembulan ing ndhuwur kae sansaya pucet cahyane.”
“Min, elinga, Min!” aloke Parman lirih lan tambah gumun marang kancane sing ngoceh ora karuwan iku.
“Sesuk esuk manawa srengenge wis mlethek, aku ora kepengin ana kene maneh. aku pengin macul lan ngrungokake swarane manuk prenjak sing ngayer ing papringan. Aku wis ora kepengin ngrungokake swarane montor sing mbudhegi kuping lan sengake bensin sing mlebu ing irung.”
“Ya… ya… aku mangkono uga, Min. Sing sabar ya! Suk yen Pak Mandhor wis menehi dhuwit kowe mesthi tak jak mulih. Kowe bakal ketemu bapak lan simbokmu maneh.”
“Tenan ya, Man?” swarane Parman sing mau lirih saiki dadi rada banter kebak pengarep-arep.
“Tenan, Min! Aku uga pengin macul ing sawah maneh. Ngrasakake anyepe banyu kalen sing mili. Ngrungokake ocehe manuk ing papringan. Nonton wayang lan nyawang bocah-bocah dolanan jamuran,” ujare Parman ngeyem-ngeyemi kancane amarga mesakake nyawang kahanane.
Sajake Sarmin marem, amarga sawise kuwi dheweke banjur meneng. Kahanan dadi sepi maneh. Kadhangkala saka arah brak keprungu swara watuk-watuk lan napas sing sajak abot saka buruh-buruh sing turu kekeselen. Mesthine buruh-buruh kancane mau padha turu kepati nyaur kesel sing disangga sawise sedina muput meres tenaga.
Ing dalan krungu swarane mobil kang ngebut banter. Sawenehing mobil liwat, lan dumadakan saka njero mobil mau kumleyang gendul-gendul minuman keras kang diuncalake, ngantem aspal lan ambyar dadi sawalang-walang. Banjur lamat-lamat keprungu guyune wong sing lagi padha mendem ing sajroning mobil mau. Lan ing emperan gedhong sing durung dadi mau, Parman liyer-liyer nyangga ngantuk. Sirahe Sarmin isih ana pangkone.
“Man, Parman!” lirih Sarmin aruh-aruh. Ora ana jawaban.
“Maaaan!” saiki rada banter.
“Heeemm…  ya. Ana apa?” saute Parman aras-arasen.
“Man, geneya rembulan ing ndhuwur kae katon pucet.”
Parman tambah gumun amarga kancane sing lagi nandhang lara iku takon bab rembulan sing pucet maneh. Rembulan lan sawah. Geneya?
Ah, mesthine Sarmin kangen banget marang desane lan kelingan marang jaman isih cilik nalika saben padhang mbulan bareng-bareng dolanan ana latar kang jembar lan padhang. Parman dadi kelingan jaman nalika isih cilik lan manggon ing desa pinggir alas kana. Bebarengan wong loro angon kebo. Dheweke kelingan nalika kekarone dioyak-oyak Mbah Suta sing kondhang galak amarga kebo-kebone mangani parine Mbah Suta. Menyang sekolah sawise angon kekarone uga bareng, turu ing langgar nganti nyolong pelem ing kebone Pak Lurah uga bareng.
Nanging saiki Sarmin nglempreg tanpa daya. Awake panas kaya mawa. Ya Sarmin sing sregep menyang sawah lan terus bae macul ing sangisore srengenge kang panas. Sarmin sing seneng dolanan jamuran sing sangisoring sunar rembulan. Sarmin sing sadurunge mangkat menyang kutha terus terang kandha marang dheweke manawa kepencut marang Sumini, anake Lik Wongso, lan duwe rencana manawa wis oleh dhuwit sing akeh saka kutha bakal nglamar Sumini. Ah, apa Sumini ngerti manawa saiki Sarmin nglempreg tanpa daya?
“Aku kangen marang sawah lan pengin dolanan jamuran maneh, Man!”
“Ya…ya… aku uga mangkono, Min!”
”Jamuran…ya gegethok…jamuran ya gegethok… Ah nanging geneya mbulane tambah pucet!” grenenge Sarmin.
Sepi sauntara. Hawane sansaya atis. Parman pengin ngajak Sarmin mlebu menyang brak. Nanging…
“Man, apa gelem kowe tak jak munggah menyang rembulan?”
“Oooo… mesthi bae! Mesthi bae!” saure Parman kanthi bingung. Tangane ngelus-ngelus bathuke Sarmin. Panas sing kaya mawa ora mendha-mendha.
“Ohh… Man! Awake dhewe bareng-bareng munggah menyang rembulan. Apa ing kana ya ana sawah lan kebo ya, Man?”
“Ohh… mesthi ana, Min! Mesthi ana!”
“Oohh… senenge manawa mangkono,” lirih kandhane Sarmin. Banjur sepi maneh. Rada suwe, Parman tambah ngantuk.
Bebarengan karo Sarmin, Parman mabur menyang rembulan. Tangane wong loro gegandhengan. Nanging dumadakan ing satengahing dalan tangane Parman uwal saka tangane Sarmin. Parman tiba kumleyang ing langit kang jembar, dene Sarmin terus bae mabur. Mabur. Mabur menyang rembulan. Parman mbengok sarosane nyeluki Sarmin. Nanging Sarmin ora nggape. Lan wekasane awake Parman tumiba ing bumi. Parman mbengok sora. Mripate melek pendirangan. Aahhh… tibake mung impen. Nanging…
Min…Sarmin! Min…Sarmin…!” Parman ngoyog-oyog awake Sarmin sing isih turu ing pangkone. Nanging ora ana wangsulan…

*Penulis: Sugiarto B Darmawan
Diambil dari: http://www.solopos.com/2013/03/07/cerkak-kangen-385744

Edisi Cerkak: Sing Nandur Bakal Ngundhuh*


Esuk iki langite katon isih peteng, pedhute kandel banget, lan hawane uga adhem banget. Nanging, kuwi kabeh ora nyuda kekarepane Bu Umi kanggo dodol pohong menyang pasar. Sanadyan gaweyan iku abot, nanging Bu Umi ora tau nggresula. Bu Umi saiki mung urip karo putrane sing isih kelas I SMP. Bu Umi ditinggal bojone wis pitung taun suwene, amarga bojone Bu Umi duwe bojo liya. Kuwi uga dadi pawadan Ilham, putrane Bu Umi, luwih milih urip melu ibune. Bu Umi biyasane menyang pasar jam setengah lima esuk. Ilham saben dina ngrewangi ibune nggawa dagangan menyang pasar, amarga pohung sing digawa kira-kira setengah kwintal. Sawise ngeterake dagangan, Ilham bali menyang ngomah kanggo siyap-siyap mangkat sekolah. Ilham kalebu bocah sing pinter lan sregep, saengga Ilham bisa sekolah ning SMP sing mutune paling apik lan dadi sekolah unggulan ing kabupaten.

Dina iki dagangan Bu Umi lagi sepi, amarga lagi mangsa rendheng saengga akeh pohung sing kebanjiran lan dadi ora enak dipangan. Wektu iki Ilham lagi butuh bayaran kanggo tuku buku lan seragam anyar. Bu Umi mung bisa sabar ngadhepi kuwi kabeh mau lan ngupayakake golek gaweyan liya sing bisa disambi dodol pohung. Bu Umi wis siyap-siyap ngukuti dagangane amarga wis jam sanga esuk. Nanging, Bu Umi mandheg sedhela amarga ana bocah cilik sing nangis neng ngarepe. Bu Umi banjur nyedhaki bocah kuwi mau.


“Hlo, ngopo nangis, Ndhuk?” pitakone Bu Umi marang bocah kuwi.
“Aku nggoleki ibuku,” semaure nganggo basa ngoko amarga durung ngerti basa krama.
“Hla ibumu sapa? Kepriye bisa pisah karo ibumu?” Bu Umi takon meneh marang bocah kuwi karo ngajak lungguh menyang lincak sing dinggo dodol Bu Umi.
“Aku pengin tumbas permen, aku nggoleki sing dodol permen.” semaure bocah kuwi karo isih nangis.
“Hla wis sido tuku permen?” pitakone Bu Umi karo njupuk wedang kanggo bocah kuwi. Bocah iku mung gedheg lan malah tambah banter nangise.
“Oo… ya wis kowe nunggu ning kene wae karo ngombe wedang iki dhisik, ibu arep numbasake permen kanggo kowe lan nggoleki ibumu dhisik ya?” welinge Bu Umi menyang bocah kuwi.
Sawise bocah iku meneng nangise, Bu Umi banjur tuku permen. Sanadyan regane larang, Rp5.000,00 nanging Bu Umi tetep numbasake permen kanggo bocah kasebut. Bu Umi  ora tega karo bocah sing lagi nangis kuwi. Ing tengah pasar Bu Umi ngerti ibu-ibu sing katon bingung. Bu Umi marani ibu-ibu mau.
“Nyuwun sewu, menapa panjenengan nembe madosi putranipun?” pitakone Bu Umi marang ibu-ibu kuwi.
“Inggih leres, Bu. Menapa panjenengan mangertos anak kula?” ibu-ibu mau noleh menyang Bu Umi sing nakoni saka mburine.
“Menika wonten bocah putri ugi madosi ibunipun. Menapa leres putranipun panjenengan?” pitakone Bu Umi kanthi ngeterake menyang papan sing dinggo dodol Bu Umi.
“Ya ampun, Ndhuk. Kowe ning ngendi wae? Ibu sing nggoleki nganti bingung banget.” Bu Nurul, ngono asmane ibu-ibu kuwi, langsung nggendhong anake kuwi mau sing wis ora nangis.
Bu Umi njlentrehake kadadean mau marang Bu Nurul.
“Matur nuwun sanget nggih, Bu. Amargi sampun njagi anak kula,” Bu Nurul nyalami tangane Bu Umi kanthi mesem, bungah.
“Inggih Bu, sami-sami,” wangsulane Bu Umi kanthi menehake permen marang bocah kuwi mau.
Sawise Bu Nurul lan anake pamitan arep bali, Bu Umi nerusake nata dagangane sing arep digawa bali. Nalika tata-tata, Ilham nyusul menyang pasar amarga kepengin mbyantu ibune nggawa dagangan sing isih akeh. Dina iki lagi ana rapat kanggo guru ing sekolahe Ilham, saengga kabeh muride bali luwih cepet.  Saka njero mobil, Bu Nurul isih nggatekake Bu Umi karo Ilham sing lagi nglebokake pohung ning bagor. Ing batine, Bu Nurul gumun karo Bu Umi sing gelem tetulung marang wong sing durung tau ketemu. Esuk-esuk Ilham arep mangkat sekolah, nanging atine tansah susah amarga durung bisa mbayar buku lan seragam. Bu Umi ngerti apa kang lagi dirasakake putrane.
“Le, Ibu ngerti kowe lagi susah amarga bayaranmu kuwi. Nanging, Ibu saiki durung duwe dhuwit sing ganep kanggo mbayar. Ibu rencanane mengko arep nyilih dhuwit menyang budhemu dhisik. Dadi yen dina iki ibu entuk silihan dhuwit, sesuk kowe bisa mbayar buku lan seragam,” ngendikane Bu Umi marang Ilham.
“lnggih Bu, kula nyuwun ngapunten sampun ndadosaken Ibu susah.”
“Iki wis dadi tanggung jawabe Ibu. Dadi kowe ora usah njaluk ngapura,” Bu Umi nglipur putrane supaya ora sedhih maneh.
“Nggih Bu, kula badhe mangkat sekolah rumiyin,” Ilham pamitan lan salim marang ibune.
Nalika sayah ngaso, Ilham menyang perpustakaan ing sekolahe. Ing kono uga ana Bu Nurul. Bu Nurul ing sekolahe Ilham amarga Bu Nurul iku garwane kepala sekolah ing kono. Bu Nurul ngerti yen Ilham kuwi putrane Bu Umi amarga wis tau weruh nalika ning pasar. Bu Nurul nyawang Ilham kayane lagi susah, banjur arep nyedhaki Ilham nanging bel tandha mlebu kelas wis muni. Bu Nurul ora sida nemoni Ilham. Bu Nurul wis bisa ngira-ira yen Ilham lagi mikirake bayaran amarga minggu iki telat-telate mbayar. Bu Nurul banjur menyang kantor tata usaha (TU) lan nakokake bayaran sekolahe Ilham sing durung lunas. Bu Nurul kepengin mbiyantu mbayar buku lan seragame Ilham, nanging sadurunge kudu takon dhisik marang Ilham.
Nalika bali sekolah, Ilham dikon menyang kantor TU kanggo nemoni Bu Nurul. Amarga durung ngerti apa pawadane dheweke diceluk menyang TU, atine Ilham dadi dheg-dhegan. Banjur diterangake yen bayarane arep dilunasi Bu Nurul kanggo wujud matur nuwune marang ibune Ilham. Ilham seneng banget lan njaluk idin arep matur marang ibune dhisik. Sawise Ilham matur marang ibune, Bu Umi kaget. Lan kanggo rasa ngurmati, Bu Umi menyang sekolahe Ilham lan nakokake piwelinge Bu Nurul rikala wingi. Bu Nurul wektu iku uga ana ing sekolah.
“Bu Umi, kula badhe nyuwun pirsa menapa kula angsal mbiyantu panjenengan anggenipun mbayar buku lan seragamipun Ilham? Menika kangge wujud matur nuwun kula dhateng panjenengan ingkang sampun mbiyantu njagi anak kula nalika wonten peken,” pitakone Bu Nurul kanthi alus supaya ora nglarani atine Bu Umi.
“Saderengipun matur nuwun, ananging kula menika ikhlas mbiyantu panjenengan lan boten gadhah gegayuhan menapa-menapa,” ngendikane Bu Umi.
“Inggih Bu, ananging menika ugi kangge bebungah Ilham amargi sampun dados juwara setunggal ing sekolah menika.” Bu Nurul wis ngerti yen Ilham duwe prestasi kang apik lan dhuwur ing sekolah.
“Alhamdulillah, menawi kados mekaten, kula ngaturaken matur nuwun sanget awit bebungah menika, Bu,” wangsulane Bu Umi sinambi mbrebes mili.
“Kula ingkang kedahipun ngaturaken matur nuwun dhateng panjenengan,” ngendikane Bu Nurul.
“Inggih Bu, sami-sami,” Bu Umi lan Bu Nurul banjur salaman.
Bu Umi ora ngira yen tumindake sing kanggone ora sepira kuwi bisa diwales kanthi kaya mangkono. Bu Umi tansah percaya yen apa wae kang dilakoni ing donya iki mesti bakal diwales kaya sing ditindakake, kaya unen-unen: apa sing ditandur, ya kuwi sing bakal diundhuh.

*penulis bernama  Kusmira Dwi Ayuani (Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa Universitas Sebelas Maret)