Radio Dakwah

Radio yang berperan dalam dakwah.

Asal-Usul Jathilan

Sejarah Jathilan di Indonesia

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 11 November 2013

Optimalisasi Google Drive Untuk Keberlangsungan Menejemen IPM



Google Drive merupakan salah satu dari segian banyak inovasi dari Google inc dibidang industri teknologi informasi. Dengan Google Drive, user bisa menyimpan segala dokumen secara cloud kapanpun dan dimanapunpun juga  kita bisa membagikan (sharing) dokumen tersebut kepada teman-teman kita maupun relasi kita.
Fitur-fitur Google Drive
  • Buat dan kolaborasi: Dengan fitur ini kita dapat dengan mudah membuat berbagai jenis dokumen mulai dari spreedsheet, word processing, powerpoint dll. selain itu kita juga bisa mengkolaborasi dokumen dengan teman-teman kita.
  • Kapastitas yang besar: Google Drive menyediakan 5 Gigabyte untuk menyimpan dokumen-dokumen kita.
  • Memulai diskusi : Kita bisa membuat dan membalas komentar untuk mendapatkan masukan dan jadikan file lebih kolaboratif.
  • Kembali tepat pada waktunya : Google Drive melacak setiap perubahan yang kita buat—sehingga saat kita menekan tombol simpan, revisi yang baru akan disimpan. Kita dapat melihat kembali versi dokumen paling lama 30 hari yang lalu secara otomatis atau memilih revisi untuk disimpan selamanya.
  • Berbagi dan Suka : Kita dapat berbagi file atau folder dengan siapa pun dan memilih apakah mereka dapat melihat, mengedit, atau mengomentari dokumen Anda.    
  • Lihat apa saja: Kita bisa membuka lebih dari 30 jenis file langsung di browser, termasuk video HD, Adobe Illustrator, dan Photoshop—bahkan jika programnya belum terpasang di komputer.
  • Penelusuran yang canggih : Google Drive membantu kita mendapatkan file lebih cepat. Telusuri konten menurut kata kunci dan filter menurut jenis file, pemilik, dan lain-lain. Google Drive bahkan dapat mengenali objek dalam gambar dan teks pada pindaian dokumen.
  • Dekstop Aplication : Google drive juga di lengkapi dengan aplikasi dektop yang bisa kita unduh dan install di perangkat  kita baik itu komputer dekstop, laptop, smartphone maupun tablet kita.  Untuk mengunduh aplikasinya klik disini : Download
Optimalisasi Fungsi.
Dari berbagai fitur-fitur yang di sediakan Google tadi, kenapa tidak kita gunakan untuk keberlangsungan administrasi IPM? saya terus terang sudah menggunakan layanan google drive ini sudah lama, saya menyimpan dokumen-dokumen penting IPM disini mulai dari SK, Tanfidz, File powerpoint dll.
Pun juga kita dapat kita gunakan untuk rapat online IPM, melakukan kolaborasi sunting-edit dokumen, makalah, proposal kegiatan IPM dll menggunakan layanan Google Drive berbasis cloud ini.
Beberapa jenis file yang compatible dengan Google Drive :
  • Word Document
  • Powerpoint Document
  • SpreedSheet Document
  • Pdf Document
  • Image Document
  • Script Document
  • dll

Selain itu teman-teman nanti akan di manjakan dengan aplikasi google drive yang berbasis client. Untuk menggunakan fitur ini teman-teman diharuskan untuk mengunduh aplikasinya, ketika sudah terinstall cukup teman-teman copy dokumen dan paste di folder Google Driveyang ada di Windows Explorer, dan secara otomatis aplikasi tersebut melakukan sinkronisasi dengan server yang ada di Google Drive. Teman-teman tertarik menggunakan untuk keberlangsungan sistem administrasi Ikatan? Nuun walqolami wamayasturun. (zuhri)

Sumber tulisan:
saifuddinzuhrie.blogspot.com/2013/01/optimalisasi-google-drive-untuk.html

Bersama IPM

Cipt : Yayank Suwandi
Menyambung perjuangan Rosulullah
Bersama IPM yang tercinta
Mengawali langkah dakwah kita
Bersatu menuju cita-cita

Bersama IPM, bersama IPM
Kita awali langkah dakwah
Terus perjuangkan untuk menciptakan
Kader yang islami, Muhammadiyah
Berjuang IPM berjuang IPM
Kita melangkah bersama
Untuk menciptakan masyarakat Islam
Yang sebenar-benarnya

Jadikan dengan berIPM
Sebagai ladang dakwah
Lakukan semua yang terbaik
Dengan ikhlas dan sabar.

Nasyiatul Aisyiyah, Pelita Penerang dalam Gelap Gulita


Padamu Nasyiah, Bangsa ini brharap
Menjadi Pelita, Penerang Gelap Gulita
Padamu Nasyiah, Umat rindu menanti
Peran dan kiprahmu, Jadi pandu ibu pertiwi.

Majulah engkau di depan, Pemimpin puteri teladan.
Jangan kau ragu berjuang, Untuk kejayaan ummat.

Mantapkan gerak aksimu, Berjuang untu rakyatmu
Menjadikan Indonesia Jaya Makmur sentosa

Reff
Padamu Nasyiah, Bangsa ini brharap
Menjadi Pelita, Penerang Gelap Gulita
Padamu Nasyiah, Umat rindu menanti
Peran dan kiprahmu, Jadi pandu ibu pertiwi.

Majulah engkau di depan, Pemimpin puteri teladan.
Jangan kau ragu berjuang, Untuk kejayaan ummat.
Mantapkan gerak aksimu, Berjuang untu rakyatmu
Menjadikan Indonesia Jaya Makmur sentosa

Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah Pejuang Syari'at Islam



Ki Bagus Hadikusumo adalah sosok penting bagi Indonesia dan bagi Muhammadiyah. Pahlawan perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia ini dilahirkan di kampung Kauman Yogyakarta dengan nama R. Hidayat pada 11 Rabi’ul Akhir 1038 Hijriyah. Beliau adalah putra ketiga dari lima bersaudara Raden Haji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan agama Islam di Kraton Yogyakarta. Seperti umumnya keluarga santri, Ki Bagus mulai memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya dan beberapa Kiai di Kauman. Setelah tamat dari ‘Sekolah Ongko Loro’ (tiga tahun tingkat sekolah dasar), Ki Bagus belajar di Pesantren Wonokromo, Yogyakarta. Di Pesantren ini ia banyak mengkaji kitab-kitab fiqih dan tasawuf.
Pada usia 20 tahun Ki Bagus menikah dengan Siti Fatmah (putri Raden Haji Suhud) dan memperoleh enam anak. Salah seorang di antaranya ialah Djarnawi Hadikusumo, yang kemudian menjadi tokoh Muhammadiyah dan pernah menjadi orang nomor satu di Parmusi. Setelah Fatmah meninggal, ia menikah lagi dengan seorang wanita pengusaha dari Yogyakarta bernama Mursilah. Pernikahan ini dikaruniai tiga orang anak. Ki Bagus kemudian menikah lagi dengan Siti Fatimah (juga seorang pengusaha) setelah istri keduanya meninggal. Dari istri ketiga ini ia memperoleh lima anak.
Sekolahnya tidak lebih dari sekolah rakyat (sekarang SD) ditambah mengaji dan besar di pesantren. Namun, berkat kerajinan dan ketekunan mempelajari kitab-kitab terkenal akhirnya ia menjadi orang alim, mubaligh dan pemimpin ummat.

Ulama Produktif dan Berani
Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPMHoofdbestuur Muhammadiyah (1926), dan Ketua PP Muham madiyah (1942-1953). Pokok-pokok pikiran Ahmad Dahlan berhasil ia rumuskan sedemikian rupa sehingga dapat menjiwai dan mengarahkan gerak langkah serta perjuangan Muhammadiyah. Bahkan, pokok-pokok pikiran itu menjadi Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah. Muqaddimah yang merupakan dasar ideologi Muhammadiyah ini menginspirasi sejumlah tokoh Muhammadiyah lainnya. HAMKA, misalnya, mendapatkan inspirasi dari muqaddimah tersebut untuk merumuskan dua landasan idiil Muhammadiyah, yaitu Matan Kepribadian Muhammadiyah dan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah.
Ki Bagus juga sangat produktif dalam menuliskan buah pikirannya. Buku karyanya antara lain Islam sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin. Karya-karyanya yang lain yaitu Risalah Katresnan Djati (1935), Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940), Poestaka Ichsan (1941), dan Poestaka Iman (1954). Dari buku-buku karyanya tersebut tercer min komitmennya terhadap etika dan bahkan juga syariat Islam. Dari komitmen tersebut, Ki Bagus termasuk seorang tokoh yang memiliki kecenderungan kuat untuk pelembagaan Islam.
Munculnya Ki Bagus Hadikusumo sebagai Ketua PB Muhammadiyah adalah pada saat terjadi pergo lakan politik internasional, yaitu pecahnya perang dunia II. Kendati Ki Bagus Hadikusuma menyatakan ketidaksediaannya sebagai Wakil Ketua PB Muham madiyah ketika diminta oleh KH Mas Mansur pada Kongres ke-26 tahun 1937 di Yogyakarta, ia tetap tidak bisa mengelak memenuhi panggilan tugas untuk menjadi Ketua PB Muhammadiyah ketika KH Mas Mansur dipaksa menjadi anggota pengurus Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) di Jakarta pada tahun 1942. Apalagi dalam situasi di bawah penjajahan Jepang, Muhammadiyah memerlukan tokoh kuat dan patriotik.
Pada masa pendudukan Jepang, Ki Bagus menentang “Sei Kerei” yang diwajibkan bagi sekolah-sekolah setiap pagi hari. Beliau berani menentang perintah pimpinan tentara Dai Nippon yang terkenal ganas dan kejam, untuk memerintahkan umat Islam dan warga Muhammadiyah melakukan upacara kebaktian tiap pagi sebagai penghormatan kepada Dewa Matahari. Ia merasa terpanggil untuk menyelamatkan generasi muda dari kesyirikan, maksudnya upacara tersebut jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Setelah melalui debat yang sangat seru, menegangkan dan beresiko tinggi dengan pihak Jepang, akhirnya pemerintah Jepang memberi dispensasi khusus bagi sekolah Muhammadiyah untuk tidak melakukan upacara tersebut.
Islamisasi Dasar Negara
Semasa menjadi pemimpin Muhammadiyah, Ki Bagus termasuk dalam anggota BPUPKI dan PPKI. Peran beliau sangat besar dalam perumusan Muqadimah UUD 1945 dengan memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan. Pokok-pokok pikirannya dengan memberikan landasan-landasan itu dalam Muqaddimah UUD 1945 itu disetujui oleh semua anggota PPKI.
Ki Bagus Hadikusumo adalah salah satu tokoh yang cukup lantang meneriakkan syariah Islam. Beliau bahkan memberikan antitesis atas ‘Lima Prinsip Dasar’ yang kemudian dikenal dengan Pancasila yang diajukan oleh Sukarno-M. Yamin, dengan mengajukan pendapat bahwa ‘Islam Sebagai Dasar Negara.’ Bahkan, Ki Bagus lebih tegas lagi meminta kata-kata bagi pemeluk-pemeluknya ditiadakan, sehingga berbunyi: dengan kewajiban menjalankan syariat Islam.
Ki Bagus Hadikusumo sebagai tokoh vokal yang mewakili golongan Islam dalam sidang BPUPKI pada 31 Mei 1945 mengeluarkan pernyataan yang intinya “membangun negara di atas ajaran Islam”. Gagasannya tersebut didasarkan pada alasan sosio-historis dan pemahaman terhadap ajaran Islam. Menurut Ki Bagus, agama Islam paling tidak sudah enam abad menjadi agama bangsa Indonesia. Adat istiadat dan hukum Islam sudah berlaku lama di Indonesia.
Pada sidang pleno BPUPKI tanggal 14 Juli 1945 Ki Bagus Hadikusumo yang mengusulkan dihapuskannya kata-kata dalam kalimat Ketuhanan, yaitu   bagi pemeluk-pemeluknya. Pada awalnya Ki Bagus Hadikusumo hanya mengomentari soal redaksi dan kemudian mengemukakan alasan lain, bahwasanya itu merupakan perundang-undangan ganda, yaitu untuk kaum muslim dan satu untuk umat lain, hal ini tidak dapat diterima. Sehingga redaksi Sila Pertama usulan Ki Bagus berbunyi “Ketuhanan dengan menjalankan Syariat Islam.” Artinya, dalam pandangan Ki Bagus, syariah Islam harus berlaku secara umum di Indonesia.
Dari sini terjadilah perdebatan sengit di antara ke dua kubu. Saking sengit dan tegangnya pertemuan itu, sampai-sampai Soekarno memilih tak melibatkan diri dalam lobi tersebut. Soekarno terkesan menghindar dan canggung dengan kegigihan Ki Bagus Hadikusumo, Ketua Umum Muhammadiyah ketika itu, dalam mempertahankan seluruh kesepakatan Piagam Jakarta. Soekarno kemudian hanya mengirim seorang utusan untuk turut dalam lobi yang bernama Teuku Muhammad Hassan.
Bahkan dalam pembahasan UUD terutama Pasal 28 Bab X tentang agama, yang berbunyi, “(1) Negara berdasar Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya; (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan untuk beribadat menurut agamanya masing-masing,” terjadilah perdebatan yang cukup sengit. Ki Bagus Hadikusumo berulang-ulang meminta kepada pimpinan rapat untuk menjelaskan arti anak kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” secara pasti. Agar tidak terjadi salah tafsir.
Soekarno yang saat itu menjadi ketua Panitia Sembilan dan anggota  BPUPKI menanggapi bahwasanya hal itu sudah merupakan keputusan mutlak dari hasil kompromi dari kedua belah pihak, yaitu golongan Nasionalis Sekuler dan Islam. Setelah diskusi yang panjang mengenai batang tubuh Undang-undang Dasar, Ki Bagus Hadikusumo untuk ketiga kalinya minta penjelasan mengenai anak kalimat “bagi pemeluk-pemeluknya”. Akan tetapi, ketua menjelaskan bahwa masalah ini sudah dibahas panjang lebar pada hari sebelumnya. Sekali lagi, ia menyatakan ketidaksetujuannya dan tetap pada pendiriannya, yaitu dihapuskannya kata bagi pemeluk-pemeluknya dalam anak kalimat sila “Ketuhanan dengan menjalankan Syariat Islam.”
***
Betapa gigihnya dan teguhnya Ki Bagus dalam memperjuangkan Syariat Islam agar menjadi dasar negara. Bagi Ki Bagus, pelembagaan Islam menjadi sangat penting untuk alasan-alasan ideologi, politis, dan juga intelektual.
Pada masa Pemerintahan Kolonial, Ki Bagus dan beberapa ulama lainnya juga pernah terlibat dalam sebuah kepanitiaan yang bertugas memperbaiki peradilan agama (priesterraden commisse). Hasil penting sidang-sidang komisi ini ialah kesepakatan untuk memberlakukan hukum Islam. Akan tetapi, Ki Bagus dikecewakan oleh sikap politik pemerintah kolonial yang didukung oleh para ahli hukum adat yang membatalkan seluruh keputusan penting tentang diberlakukannya hukum Islam untuk kemudian diganti dengan hukum adat melalui penetapan Ordonansi 1931. Kekecewaannya itu ia ungkap kembali saat menyampaikan pidato di depan Sidang BPUPKI.
Ki Bagus Hadikusumo wafat pada usia 64 tahun. Beliau wafat meninggalkan sebuah teladan dan landasan perjuangan. Tugas kita adalah melanjutkan apa yang sudah beliau bangun. Mewujudkan Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya: Masyarakat Indonesia yang bersyariat Islam! [sumber: majalah tabligh online)

Selasa, 05 November 2013

Dialog Imajiner Kyai dan Santri

Santri : "Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Pak Kyai!"
Kyai : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."
Santri : "Lah iya, Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu ?"

Kyai : "Ya tidak tahu lah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."
Santri : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih ? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"
Kyai : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."
Santri : "Anti-aging gitu, Pak Kyai?"
Kyai : "Iya. Pokoknya kekal."
Santri : "Terus Nabi Adam percaya ? Sayang, iblis kok dipercaya."
Kyai : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."
Santri : "Maksudnya senior apa, Pak Kyai?"

Kyai: "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."
Santri : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Pak Kyai?"
Kyai : "Iblis itu dulu nya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."

Santri : "Oh iya, ya. Tapi, walaupun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara- garanya, aku jadi miskin kayak gini."
Kyai : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."
Santri : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"
Kyai : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).

Santri : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Pak Kyai?"
Kyai : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."
Santri : "Aneh."
Kyai : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"
Santri : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan."
Kyai : "Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."

Santri : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Pak Kyai?"
Kyai : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."
Santri : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak ?"
Kyai : "Dua-duanya."
Santri : "Kok dua-duanya?"

Kyai : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."
Santri : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna."
Kyai : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."
Santri : "Ooh..."
Kyai : "Jadi intinya begitu lah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."

Santri : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa? Tidak mengakui Tuhan?"
Kyai : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."
Santri : "Masa sih, Pak Kyai?"
Kyai : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."
Santri : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"
Kyai : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."
Santri : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."
Kyai : "Siapa? Ente?
Santri : "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Mereka mengaku yang paling bener, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran."
Kyai : "Wah, persis Iblis tuh."
Santri : "Tapi mereka siap mati, Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."
Kyai : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."
Santri : "Bedanya apa, Pak Kyai?"
Kyai : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."
Santri : "Lho, kok begitu?"
Kyai : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."
Santri : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"
Kyai : "Pinter kamu, Kang!"
Santri : "Santrinya siapa dulu dong? Pak Kyai. "
Sumber: www.facebook.com/notes/robby-karman/dialog-imajiner-kyai-dan-santri

Minggu, 03 November 2013

Mengenang Kh. AR. Fachruddin


”Yang paling ujung Nak Podo. Sebelahnya Nak Toni. Keduanya dari Madiun. Di sampingnya Nak Agus dari Tulungagung. Terus Nak Rizal dan Nak Tono dari Pekalongan. Nak Syaifuddin dari Cirebon. Nak Didit dari Bogor. Nak Udin dari Karawang. Dan yang paling ujung Nak Fauzi, putra saya, yang sudah kepingin kawin,” jelas pak AR yang tak lupa menyelipi ”humor” memperkenalkan kami –anak anak kos-  kepada tamunya seusai salat. Kemudian, ia pun memperkenalkan tamu-tamunya kepada kami. Dan kultum -kuliah tujuh menit- pun dimulai. Kultum adalah acara rutin kami setiap habis salat. Terutama usai salat Maghrib dan Subuh, ketika semua teman-teman kos pada kumpul. Yang memberi kultum pak AR. Tapi sesekali beliau meminta salah seorang di antara kami atau tamunya untuk memberi kultum juga. Rumah Pak AR, di Jl. Cik Di Tiro 79 A, memang sangat strategis, hanya 200 m dari kampus UGM. Seperti orang Yogya umumnya, Pak AR pun menyediakan dua kamar di rumahnya untuk kos-kosan. Karena kamarnya besar, maka satu kamar diisi empat orang. Yang kos di rumah Pak AR bukan hanya mahasiswa putra kalangan Muhammadiyah. Ada juga dari kalangan NU. Bahkan ada juga di antaranya berasal dari kalangan abangan. Tak mengapa. Pak AR tak mensyaratkan apa-apa bagi calon anak-anak kosnya, kecuali disiplin dan bersedia salat jama’ah bersama. Itupun kalau sedang ada di rumah.

'Yamaha' Butut
Terus terang, tahun 1979 - 1980 an, waktu kos di rumah Pak AR, saya belum kenal dengan apa itu politik, organisasi Islam, dan kegiatan sosial. Kos di rumah Pak AR pun sebetulnya tak sengaja. Ketika sedang mencari rumah kontrakan, seorang teman memberi tahu, ada tempat kosong di situ. Saya pun melamar, lalu diterima. Sampai beberapa waktu tinggal di rumah Pak AR, saking blo’onnya, saya tidak tahu kalau beliau adalah orang besar. Saya tak tahu kalau beliau pimpinan Muhammadiyah yang punya ratusan perguruan tinggi itu. Padahal waktu itu saya amat mengagumi tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Dr. Amin Rais, Dr. Syafi’i Ma’arif dan Habib Chirzin yang sering ceramah di Gelanggang Mahasiswa UGM.
Kehidupan Pak AR yang amat bersahaja dan cara bicaranya yang sederhana itulah yang membuat saya tak mengira kalau beliau adalah orang penting level nasional. Baru ketika menjelang liburan Idul Fitri, setelah saya melihat di meja depan kamar saya banyak kartu lebaran untuk Pak AR, di antaranya dari Presiden Soeharto, saya pun berpikir, siapa sebenarnya Pak AR itu. Apalagi ketika datang serombongan crew TV NHK Jepang yang mewawancarai Pak AR, saya makin penasaran. Sayapun tanya kepada Mas Supodo, mahasiswa FT Kimia UGM dan paling senior di antara kami. Mas Podo dengan logat Madiunnya yang medhok, bilang, ”Tahu nggak, Pak AR itu pernah ditawari jadi Menteri Agama oleh Pak Harto, sebelum Mukti Ali, Alamsyah dan Munawir Syadzali? Tapi beliau degan halus menolaknya. ”Saya kaget dan melongo! ”Tahu nggak, pimpinan Astra Motor pernah datang kesini mau memberi hadiah mobil sedan Toyota terbaru, tapi ditolak Pak AR dengan halus. Pak AR adalah orang besar,” kata Mas Podo. Setelah itu, baru saya tahu siapa Pak AR yang ”tetap setia” dengan Yamaha bututnya, tahun 70-an, yang berwarna merah kusam itu. Kemanapun pergi, beliau memakai Yamaha itu. Kadang beliau harus menunggu kedatangan mas Fauzi dari kampung yang membawa motor tadi.

Maklum, hanya motor itulah yang dipakai keluarga Pak AR. Putra-putrinya yang masih tinggal bersama saat itu–Mas Fauzi, yang mahasiswa Kedokteran UGM, dan Mbak Was, yang mahasiswi Fisipol UGM dan kemudian menikah dengan teman kos kami Agus Purwantoro dari Tulungagung – juga memakai Yamaha tersebut. Bahkan kadang-kadang motor itu juga dipakai pembantunya untuk kulak bensin. Di depan rumahnya, iseng-iseng keponakan Pak AR yang dari Bantul, berjualan bensin. Memanfaatkan rumah pinggir jalan.Sering saya lihat, Pak AR dan ibu berboncengan di atas Yamaha butut yang jok nya sempit ke sebuah pertemuan. Bu AR terpaksa harus memegang erat-erat bahu Pak AR, supaya tak jatuh. Begitulah Pak AR dengan Yamaha bututnya yang sampai saya lulus masih setia dengannya. Rumah Pak AR, yang konon ”warisan” Depag setelah beliau pensiun dari jabatan Kepala Penerangan Agama Islam Propinsi DI Yogyakarta, jauh dari mewah. Rumah itu memang cukup besar, ada garasinya. Tapi karena tak ada mobil, garasi itu tidak terpakai. Untuk keperluan anak-anak kos, di bagian belakang dibangun tiga kamar mandi. Sedang dapur dan mushalanya bergandengan, hanya dipisah pintu. Dari mushala inilah saya tahu betul apa saja yang dimasak keluarga Pak AR. Dari situ kelihatan menu makanan untuk Pak AR sama dengan menu makanan anak kos-kosan yang sederhana. Hanya nasi dan lauk pauk ala kadarnya. Udin, teman kos mahasiswa Fakultas Kedokteran yang orang tuanya cukup kaya, karena tak puas makan di tempat kos, sering mengajak saya makan di restoran Padang.

Kyai Yang Merakyat
Pak AR adalah kyai yang sangat merakyat. Ia paling senang kalau diundang ceramah di kalangan masyarakat kecil di lembah kali Code dan kampung-kampung pinggiran Yogya. Suatu kali, dalam kultum, ia menjelaskan kenapa ia sering ceramah di kalangan orang kecil dan miskin, ”Karena itulah sunnah Nabi,” katanya. Pengikut Islam pertama-tama adalah kalangan bawah, miskin dan budak belian. ”Karena itu,” jelas Pak AR, “Sebagai da’i jangan terlalu berharap pada orang-orang besar dan kaya. Bukankah Nabi Muhammad pernah mendapatkan teguran karena menyepelekan orang kecil demi berdakwah untuk orang besar ?” gugahnya. Lalu iapun menjelaskan kisah Abdullah bin Ummi Maktum yang meminta dijelaskan tentang Islam, sementara Rasul lebih berharap dakwahnya diterima pembesar Quraisy yang saat itu berada di hadapannya. Ceramah Pak AR memang sederhana. Logikanya pun sederhana. Tapi justru itulah kekuatannya, karena beliau menyampaikannya dengan suara yang tulus. Banyak orang menganggap ceramah Pak AR banyak humornya. Tapi saya tahu humor yang muncul di ceramah Pak AR itu benar-benar tidak disengaja –semata-mata karena logikanya yang sederhana dan merakyat. Suatu ketika, dalam suatu ceramah di Masjid Syuhada Yogya, beliau menjelaskan tentang hebatnya ular tongkat Nabi Musa. ”Ular-ular ahli sihir sewaan Fir’aun itu ditelan, satu per satu –seperti orang menelan lemper.” katanya dengan nada biasa. Tapi jama’ah pun gerrrr.

Dalam tanya jawab di Ramadhan in Campus UGM, Pak AR wanti-wanti agar mahasiswa yang suka berfikir filosofis jangan terlalu rasional dalam menanyakan masalah-masalah agama. ”Saya takut nanti ada yang tanya, kenapa sholat shubuh dua rakaat, padahal waktu subuh kan orang masih segar dan tenaganya kumpul. Nah bagaimana saya bisa menjawabnya ?” kata Pak AR. ”Tapi nanti ada juga mahasiswa yang menjawab, ”ya karena yang paling duluan bangun di pagi hari kan ayam, dan karena ayam kakinya dua, maka salat subuh pun dua rakaat,” kata Pak AR yang langsung disambut gerrr mahasiswa. Begitulah dakwah Pak AR, sederhana dan merakyat. Tidak menggadaikan prinsip. Suatu ketika beliau bercerita bahwa dirinya baru saja pulang dari sebuah propinsi di Luar Jawa. Ranting Muhammadiyah setempat sengaja mengundangnya untuk menyelesaikan konflik antara da’i cabang Muhammadiyah setempat dengan pemerintah. Ternyata kata Pak AR, ”Tidak ada masalah, cuma salah paham. Setelah saya berbicara dengan Pangdam-nya, ternyata persoalannya beres”. ”Mosok sih, kita mencurigai niat para pemimpin bangsa kita yang kebanyakan beragama Islam ?” kata Pak AR. ”Saya tidak percaya kalau pemerintah memusuhi umat Islam. Kecurigaan dan ribut-ribut itu sebetulnya terjadi karena kurangnya komunikasi dan bicara dari hati ke hati,” lanjutnya. Apa buktinya? Pak Harto dan Orde Baru adalah penyumbang terbesar dalam pembangungan sekolah-sekolah Muhammadiyah seluruh Indonesia. ”Belum lama ini Pak Harto sudah berjanji pada saya untuk menyumbang pembangunan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,” katanya. Dan benar, UMY pun kini berdiri megah.

Pak AR memang dekat dengan Pak Harto. Beliau pernah bercerita, kalau menyurati Pak Harto beliau selalu menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil. ”Pak Harto orangnya amat halus. Jadi kalau bicara dengan beliau harus dengan menggunakan bahasa yang halus,” jelas Pak AR. Ya itulah Pak AR. Dekat dengan umat dan dekat dengan pemerintah. Meski demikian beliau tak pernah menggadaikan prinsip hidupnya hanya karena jabatan dan kekayaan. Dalam berdakwah pun, beliau tak mengharapkan apa-apa selain keridlaan Allah. Logika sementara orang di kota-kota besar, bahwa seorang da’i harus kelihatan mentereng, gagah dan kaya supaya dihormati dan dakwahnya didengar, tak ada dalam benak Pak AR. Rupanya Pak AR, yang dedengkot Muhammadiyah itu, betul-betul meresapi pernyataan Imam Syafi’i. Yakni dalam hati manusia, tak mungkin bersemayam dua unsur cinta yang saling bertentangan’ cinta kepada Allah dan cinta kepada harta. Dan Pak AR memilih yang pertama. Selamat memasuki kehidupan yang sebenarnya Pak AR. Kami iri dengan kesahajaan dan ketulusan Bapak dalam berjuang yang kini makin langka. Kami yakin, Allah telah mempersiapkan tempat yang sebaik-baiknya di ”sana” untuk Bapak. Pak AR pasti lebih berbahagia di ”sana”.

Catatan
Tulisan ini dibuat oleh Syaifudin Simon dalam buku Pak AR, Profil Kyai Yang Merakyat. Sebuah buku yang berisi kompilasi pesan orang-orang dekat Pak AR untuk mengenang kepergian beliau. Beliau termasuk salah satu ulama Muhammadiyah yang diterima oleh semua kalangan, termasuk oleh kalangan Nahdhatul Ulama, sebagaimana halnya Buya Hamka. Atau Kyai Syaifuddin Zuhri dan Kyai Syukri Ghazali dan NU.

Sumber: arif2wibowo.multiply.com melalui
www.pcpmminggir.blogspot.com/2012/11/bapak-kos-kami-yang-bersahaja-mengenang.html#sthash.mYatCplh.dpuf